Bahasa dan Budaya Tidak Pernah Bisa Dipisahkan

Bahasa dan Budaya

Berbicara tentang bahasa pada hakekatnya berbicara tentang hidup dan kehidupan, karena itu bahasa dan budaya tidak pernah bisa dipisahkan. Keduanya saling jalin menjalin, keduanya saling mengisi.

Bahasa dan Budaya Tidak Pernah Bisa Dipisahkan

Bahasa dan Budaya menjadi tantangan dalam pengajaran bahasa, karena pengajaran bahasa tidak cukup hanya berkutat/ berkisar pada faktor-faktor linguistik saja, ataupun seputar metodenya saja. Tetapi harus era terkait dengan suasana sosial budaya, adat, maupun tradisi yang mengitarinya. Itulah tantangan guru bahasa untuk dapat mengajar kan bahasa yang menarik dan menyenangkan.

Bahasa dan Sastra bagaikan dua sisi sekeping mata uang, bahasa mengedepankan alur berfikir, dan sastra meniupkan roh-jiwa dari orang yang memainkan/memerankannya.

Pusat Bahasa dalam hal ini sedapat mungkin lebih longgar, artinya tidak struktural, lebih menggunakan pendekatan yang fungsional. Gaya birokrasi yang ketat struktural dan mengurus penyeragaman uniformisasi barangkali sudah tidak lagi produktif.

Pertumbuhan diferensiasi atau perbedaan-perbedaan hendaknya tetap dikembangkan, karena dari perbedaan tersebut akan lebih mengayakan bahasa itu sendiri.

Atas dasar itu Pusat Bahasa lebih memanfaatkan pranata-pranata bahasa dan sastra, serta institusi-institusi yang dapat mendukung mengembangkan pendidikan bahasa dan sastra semaksimal mungkin.

Berilah kesempatan kepada masyarakat swasta untuk melakukan hal yang lebih kreatif lagi. Kalau perlu dirikan sanggar-sanggar, bahkan kalau bisa di tiap sekolah dan tiap kampus tetapi jangan seperti di kantor pemerintahan, nanti “nggak” ada lagi yang datang.

Pusat Bahasa telah membentuk Pusat-Pusat Kebudayaan di luar negeri, Pusat Bahasa akan mengembangkan Program Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) karena BIPA akan menjadi bagian dari Pusat Kebudayaan tersebut.

Untuk memanfaatkan hasil pengembangan istilah bidang ilmu, Pusat Bahasa ingin meningkatkan kerjasama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi agar Pusat Bahasa dapat menyebarkan glosarium istilah atau kamus bidang ilmu ke lingkungan akademik melalui perguruan tinggi.

Kemudian mengingat tugas dan fungsi Pusat Bahasa yang makin luas dalam menghadapi tantangan ke depan, Pusat Bahasa akan membentuk Dewan Nasional Bahasa dan Sastra yang anggotanya tokoh dan pakar, sedangkan upaya ini merupakan rekomendasi dari Kongres Bahasa Indonesia VII.

 

Bahasa dan Budaya Tidak Pernah Bisa Dipisahkan

You May Also Like

About the Author: Lenteraonline

Ikut berbagi informasi dan pengetahuan lewat tulisan online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.